10 Tradisi Puasa di Berbagai Agama, Bukan Hanya Islam!

03 Feb 2026

10 Tradisi Puasa di Berbagai Agama, Bukan Hanya Islam!

Penulis

Bobobox

Bicara soal persiapan menjelang Idulfitri untuk para umat Muslim, tentu kita nggak bisa melupakan tradisi puasa yang mengawalinya. Namun, tahukah kamu kalau bukan hanya agama Islam yang memiliki tradisi berpuasa?

 

Ternyata, berbagai agama di Indonesia dan dunia juga punya cara puasa mereka sendiri. Sama seperti tradisi puasa dalam Islam, tradisi tersebut juga berakar dalam sejarah.

Penasaran bagaimana agama lain menjalankan puasa? Yuk, simak di sini!

 

Contoh Tradisi Puasa di Berbagai Agama

 

1. Lent

 

lent, tradisi puasa, salib kristen.jpg
Photo: Kamil Szumotalski via Unsplash

 

Salah satu tradisi berpuasa di berbagai agama yang cukup populer berasal dari agama Kristen. Tradisi tersebut bernama puasa pra-Paskah atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Lent.

 

Lent sendiri merupakan ibadah puasa pra-paskah dan pantang yang berlangsung selama 40 hari sebelum Paskah. Ibadah tersebut bermula sejak Rabu Abu (ditandai dengan pemberian tanda salib dari abu di dahi oleh pendeta) dan berakhir pada Kamis Putih atau Minggu Palma, tergantung pada kepercayaan masing-masing.

 

Selama periode Lent, umat Katolik dan beberapa denominasi Kristen Protestan hanya boleh makan kenyang sekali sehari. Untuk waktunya, mereka bisa memilih sendiri antara makan pagi, siang atau malam. Ibadah ini berlaku bagi mereka yang berusia 18-60 tahun.

 

Umumnya, orang Katolik hanya diwajibkan berpuasa pas hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Tapi, kalau merasa cukup kuat buat lebih sering puasa, nggak ada larangan buat menambah hari puasa selama masa pra-Paskah, kok. Asalkan, di luar hari Minggu.

 

Sementara itu, berpantang mengikat mereka yang berusia 14 tahun ke atas, termasuk lansia berumur 60 tahun ke atas. Saat berpantang, umat Kristen wajib berpantang selama tujuh hari, yaitu di hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat hingga Jumat Agung. Saat berpantang, mereka dianjurkan memilih makanan/minuman kesukaan, misalnya daging, cokelat, gula, atau kopi.

 

Meski begitu, puasa dan pantang yang dianjurkan untuk pra-Paskah bukan cuma soal makanan, kok. Banyak orang Kristen dan Katolik memanfaatkan kesempatan ini untuk menjauh dari kebiasaan buruk seperti merokok, scrolling media sosial, dan binge watching.

 

Baca Juga: Sambut Paskah Dengan 7 Tradisi Unik Perayaan Paskah Di Dunia Berikut Ini, Meriah Loh!

 

 

2. Yom Kippur

 

Tradisi puasa di berbagai agama berikutnya adalah Yom Kippur (Day of Atonement atau Hari Bertaubat). Yom Kippur ini merupakan salah satu dari ibadah puasa umat Yahudi.

 

Tradisi puasa satu ini dianggap sebagai hari paling kudus di antara hari-hari lain dalam kalender Yahudi dan menjadi momen untuk meminta pengampunan. Pelaksanaannya sendiri berlangsung delapan hari setelah Rosh Hashanah dan berlaku bagi pria dan wanita serta anak laki-laki berusia 13 ke atas dan anak perempuan berusia 12 tahun ke atas.

 

Saat Yom Kippur tiba, orang Yahudi akan menjalani puasa atau tidak makan dan minum selama 25 jam. Tak hanya menahan haus dan lapar, mereka juga harus menahan diri dari melakukan hubungan intim, bekerja, mandi, serta menggunakan sepatu kulit dan losion.

 

Puasa tersebut dimulai sejak matahari terbenam di hari sebelum Yom Kippur lalu berakhir di malam berikutnya (malam Yom Kippur). Umat yang menjalani puasa ini biasanya akan menghabiskan waktu mereka berdoa di dalam sinagoge sebab ibadah ini menjadi momen untuk menyesali kesalahan dan meminta ampunan pada Tuhan. 

 

Setelah Yom Kippur usai, orang-orang akan melakukan perayaan kemudian kembali pada kebiasaan makan mereka.

 

3. Uposatha

 

buddha tradisi puasa.jpg
Photo: Chinmay B via Unsplash

 

Dalam agama Buddha, hari Uposatha menjadi hari untuk melakukan pengamatan dan pelatihan delapan aturan moralitas. Salah satunya adalah dengan berpuasa. Ketika berpuasa, umat Buddha biasanya tidak makan tetapi masih boleh minum, namun tidak diperbolehkan meminum minuman fermentasi (beralkohol).

 

Tanggal pelaksanaannya tergantung pada aliran Buddha yang mereka ikuti. Namun, penentuannya tetap menggunakan perhitungan kalender Buddha, biasanya mulai dari tanggal 2-6 setiap bulannya berdasarkan kalender tersebut.

 

Selain berpuasa, aturan moralitas lainnya dalam Uposatha meliputi larangan untuk tidak:

  • Melakukan kejahatan (pembunuhan, mencuri, dan berbohong)
  • Melakukan hubungan seksual
  • Menonton hiburan seperti tarian, nyanyian, permainan musik, pertunjukan dan sebagainya
  • Memakai kosmetik, parfum, bunga, dan perhiasan yang mempercantik diri
  • Menggunakan tempat duduk atau tempat tidur mewah

Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan dan membebaskan pikiran dari hal-hal kotor. Dengan mengikuti aturannya, mereka bisa mendapatkan berkat spiritual serta ketenangan batin dan kebahagiaan.

 

4. Upawasa

 

Upawasa Hindu
Photo: Abhishek Rai via Unsplash

Upawasa merupakan salah satu tradisi puasa di berbagai agama yang populer di kalangan umat Hindu. Ibadah satu ini terdiri dari dua jenis, yaitu wajib dan tidak wajib.

 

Kategori puasa wajib meliputi puasa Siwaratri, Nyepi, purnama dan tilem, dan Parasara Dharmasastra. Saat menjalani puasa Siwaratri, umat Hindu tidak boleh makan dan minum mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Puasa wajib ini berlangsung setiap panglong ping 14 tilem kapitu atau Prawaning Tilem Kapitu.

 

Sama halnya seperti Siwaratri, umat Hindu juga tidak makan dan minum apapun. Hanya saja, puasa berlangsung mulai dari fajar hingga fajar keesokan harinya.

 

Selanjutnya, pelaksanaan puasa purnama dan tilem serupa dengan puasa Nyepi, yaitu tidak makan dan minum dari fajar ke fajar. Sementara itu, Parasara Dharmasastra biasanya berlangsung selama tiga hari. Puasa ini merupakan puasa untuk menebus dosa yang pelaksanaannya terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu minum air hangat saja, susu hangat saja, dan mentega saja tanpa makan dan minum.

 

5. Zhai dan Jie

 

 

Tradisi puasa ini sangat iconic dalam agama Konghucu, terutama menjelang perayaan Imlek. Zhai lebih menekankan penyucian diri secara jasmani, sementara Jie berhubungan dengan pengendalian perilaku dan rohani. Sehingga, pantangannya cukup luas.

 

Selain menghindari makanan tertentu seperti daging, kamu juga dianjurkan menjauhi amarah, ucapan kasar, dan perbuatan negatif. Jadi, cara puasa di sini bertujuan membersihkan pikiran, emosi, dan niat supaya kamu bisa menyambut Imlek dengan hati yang lebih jernih.

 

Promo Bobocabin Banner

 

6. Bahai

 

Agama Bahai mungkin tidak setenar Islam, Kristen, Buddha dan Hindu. Namun, agama satu ini juga memiliki tradisi puasa setiap tahunnya. Sebagai informasi, Bahai merupakan agama yang berasal dari Persia (sekarang Iran) yang memiliki arti penganut ajaran kemuliaan. Agama satu ini mengajarkan tentang pentingnya semua agama dan signifikansi persatuan dan kesetaraan dalam segala bentuk.

 

Kalender Bahai terdiri dari 19 bulan dengan dengan hitungan 19 hari per bulannya. Dengan begitu, total dalam satu tahun adalah 361 hari. Untuk menyesuaikan dengan kalender Masehi, mereka juga memiliki beberapa hari kabisat antara bulan 18 dan 19.

 

Periode puasa umat Bahai berlangsung selama 19 hari setiap tahunnya di bulan Ala, yaitu bulan bulan terakhir dalam kalender Bahai. Dengan kata lain, setelah berpuasa, mereka akan langsung menyambut tahun baru Bahai yang disebut Naw-Ruz.

 

Dalam kalender Masehi, periode itu biasanya berlangsung antara tanggal 2 sampai 20 Maret sejak matahari terbit hingga terbenam. Puasa ini sendiri membolehkan wanita hamil atau menyusui, anak-anak, lansia, orang sakit dan mereka yang tengah bepergian atau yang terlibat pekerjaan berat untuk tidak berpuasa.

 

Tradisi ini mereka lakukan dengan tujuan untuk bisa berfokus kepada Tuhan dan kesejahteraan rohani mereka. Selain itu, puasa tersebut juga menjadi periode persiapan spiritual dan regenerasi untuk menghadapi tahun baru.

 

7. Sauma

 

Sauma merupakan bentuk tradisi puasa dalam agama Mandaisme, sebuah kepercayaan kuno yang masih bertahan hingga sekarang, terutama di wilayah Timur Tengah.

Menariknya, makna Sauma sangat berbeda dari bayangan puasa pada umumnya. Fokusnya bukan pada menahan makan atau minum. Justru, pantangannya lebih bersifat etis, kurang lebih sama seperti Zhai dan Jie di agama Konghucu.

 

Selama masa Sauma, umat Mandaisme diharapkan menghindari pikiran jahat, kebohongan, serta tindakan yang merugikan orang lain seperti dusta dan kekerasan. Terus, mereka juga dianjurkan menghindari makanan berdaging dan produk hewani pada hari tertentu. 

 

Cara puasa ini mengingatkan bahwa tubuh boleh saja kenyang, tapi jiwa tetap harus dijaga kebersihannya.

 

8. Tisha B’av

 

Tisha B’av dirayakan dalam agama Yahudi sebagai hari berkabung nasional. Puasa ini mengenang berbagai tragedi besar, terutama hancurnya Bait Suci di Yerusalem. Karena itu, suasananya jauh dari perayaan, alias lebih sunyi, lebih berat, dan penuh perenungan.

 

Pantangannya cukup ketat. Selama sekitar 25 jam, umat Yahudi nggak boleh makan dan minum, mandi, memakai alas kaki dari kulit, serta harus menghindari hubungan suami istri.

Lantas, bedanya apa sama Yom Kippur yang sudah disebutkan? Yom Kippur adalah hari penebusan dosa dan fokus pada pengampunan serta pemulihan hubungan dengan Tuhan. Sementara itu, Tisha B’av berfokus pada duka.

 

9. Bigu

 

Bigu berasal dari ajaran Taoisme, khususnya praktik kuno para pertapa. Secara harfiah, Bigu berarti “tidak makan biji-bijian.” Hal ini berkaitan erat sama kepercayaan tradisional Taoisme yang menganggap biji-bijian bisa mengganggu aliran qi atau energi vital dalam tubuh.

 

Dengan menghindarinya, tubuh diyakini menjadi lebih ringan dan selaras dengan alam. Sehingga, pertapa bisa menikmati umur panjang.

 

Pantangan dalam Bigu sendiri cukup spesifik. Orang yang mempraktikkannya dilarang mengonsumsi nasi, gandum, atau serealia, dan kadang hanya makan tumbuhan herba, buah, atau bahkan minum air saja.

 

10. Saikai

 

Saikai adalah tradisi puasa agama Shinto di Jepang. Di zaman sekarang, umumnya hanya para pendeta yang melakukan ini sebelum menjalankan ritual penting di kuil.

 

Makna puasanya berhubungan dengan penyucian diri. Sebab, dalam ajaran agama Shinto, kemurnian adalah nilai utama. Puasa dilakukan agar tubuh dan jiwa bersih sebelum berhadapan dengan kami atau roh suci.

 

Pantangannya meliputi makanan berdaging dan berbau seperti daun bawang atau bawang putih, alkohol, minum teh, serta aktivitas yang dianggap mencemari kesucian, termasuk emosi negatif. Selain itu, pelaku Saikai biasanya juga menjaga ucapan dan sikap sehari-hari.

 

Explore Cara Puasa di Penjuru Indonesia Bareng Bobocabin, Yuk!

 

Bobocabin Sukawana
Photo: Bobobox Internal Asset

 

Pengen tahu bagaimana tiap daerah di Indonesia melaksanakan ibadah puasa mereka? Kamu bisa jalan-jalan ke daerah yang dekat sama alam untuk pengalaman autentik! Kalau kamu ingin pengalaman glamping di tengah alam yang nyaman, Bobocabin pilihannya.

 

Setiap Cabin yang ada di Bobocabin sudah dilengkapi fasilitas modern seperti tempat tidur empuk, kamar mandi dalam dengan water heater, AC, Bluetooth speaker, Smart Window yang bisa diburamkan secara otomatis lewat B-Pad, Mood Lamp, WiFi, serta area duduk outdoor yang nyaman buat menenangkan diri.

 

Biar pengalaman menginap makin seru, kamu juga bisa menyewa berbagai fasilitas tambahan seperti kartu Uno, permainan Uno Stacko, set BBQ, hammockmini projector untuk nonton film, sampai painting kit buat bermeditasi sambil nyeni sedikit.

 

Selain itu, Bobocabin juga menawarkan paket tur beserta pemandu dan supir yang akan mengantarkanmu ke berbagai tempat wisata di sekitar penginapan. Pilihannya pun banyak banget, mulai dari wisata alam sampai budaya!

 

Sudah punya rencana jalan-jalan ke mana, nih? Apa pun pilihanmu, jangan lupa download aplikasi Bobobox untuk pesan Cabin dengan promo dan harga terbaik sebelum berangkat!

 

 

Featured photo: Gul Isik via Pexels